Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rodi/Romusha Jaman Penjajahan

Senin, 28 Februari 2022 | Februari 28, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-03-22T10:43:33Z



Kerja Rodi dan Romusha, Kerja Paksa Zaman Penjajahan 
Pada zaman penjajahan Hindia Belanda dan Jepang, rakyat Indonesia mengalami tragedi yang menyengsarakan.
Saat Hindia Belanda dan Jepang menguasai Indonesia, rakyat Indonesia dipaksa bekerja untuk kepentingan kedua negara tersebut tanpa pemberian upah. Rakyat menerima perlakuan yang kejam. Kerja paksa itu dikenal dengan sebutan Kerja Rodi dan Romusha.
Kerja Rodi
Arti kerja rodi, Sistem kerja rodi terjadi pada masa penjajahan Hindia Belanda. Kerja rodi membuat rakyat Indonesia  sengsara dan jatuh korban jiwa. Dilansir dari Encyclopaedia Britannica (2015), kerja paksa juga disebut kerja budak yang dilakukan di bawah tekanan oleh kelompok yang relatif besar atau pemerintah. Karja rodi sudah ada diberbagai negara sejak dulu, seperti zaman rezim Nazi di Jerman atau di Uni Soviet. Pada rezim itu banyak orang-orang yang dicurigai sebagai oposisi atau nasional ditangkap. Mereka juga dipaksa bekerja di bawah tekanan yang keras. Di Indonesia kerja rodi zaman Hinda Belanda yang cukup terkenal saat membangun jalan raya sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan pada 1809.
Awal kerja rodi
Kerja rodi di Indonesia dipelopori oleh Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels. Daendels datang ke Indonesia pada 1 Januari 1808 setelah menerima perintah dari Raja Belanda Louis Napoleon. Deandels dikirim ke Indonesia untuk mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman Inggris. Untuk mempertahankan Pulau Jawa, Daendels melakukan berbagai upaya, seperti membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya. Kemudian membangun jalan raya dari Anyer hingga Panarukan, dan membangun benteng-benteng untuk pertahanan. 



Selain kerja paksa, Daendels mengumpulkan uang dari rakyat dengan cara menjual hasil bumi dengan harga murah dan melakukan kebijakan-kebijakan yang memberatkan rakyat.
Banyak korban jiwa
Semasa kerja rodi, membuat rakyat jadi sengsara. Rakyat harus bekerja keras dengan terus menggali batuan untuk membuat jalan. Pekerja juga tidak mendapatkan upah. Bahkan memperoleh tindakan di luar batas perikemanusian. Proses pembangunan jalan raya Anyer hingga Panarukan pada 1809 banyak memakan korban jiwa mencapai 12.000 jiwa. Ribuan pekerja yang kehilangan nyawa dalam periode kerja paksa, setelah dua tahap pembangunan. Sebelumnya dilakukan pekerjaan kontruksi biasa lalu dilanjutkan pasukan zeni kumpeni. Kerja rodi dilaksanakan setelah kumpeni kehabisan biaya untuk membayar tentara dan pekerja profesional.
Pelibatan militer sebelumnya dipilih oleh Pemerintah Hindia Belanda. Karena jalan yang dibangun melewati perbukitan dan pegunungan batu, sehingga butuh peralatan seperti meriam untuk meratakan. Laporan jurnalistik Kompas dalam buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan (2008), pembangunan jalan yang menghubungkan ujung barat dan timur Jawa ini untuk memenuhi kepentingan pertahanan militer semata. Pembangunan jalan ini juga berfungsi memenuhi kepentingan ekonomi. Karena Daendels mengintruksikan kepada penduduk untuk mulai mengintensifkan pertanian dengan meremajakan tanaman agar penghasilan bertambah.
Adanya jalan yang dibangun maka pengangkutan berbagai produk komoditas hasil bumi dari pedalaman ke pantai semakin lancar. Selain itu berfungsi sebagai komunikasi yang saat itu dirasakan sangat bermanfaat. Kerja romusha terjadi masa penjajahan Jepang dari tahun 1942 hingga 1945. Sama dengan kerja rodi, romusha juga membuat rakyat menjadi seksaran dan banyak jatuh korban jiwa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), romusha adalah orang-orang yang dipaksa bekerja berat pada zaman pendudukan Jepang.
Awal romusha
Awal kedatangan Jepang ke Indonesia disambut baik oleh rakyat dan pejuang kemerdekaan. Karena dianggap membantu dalam mengusir Kolonial Belanda. Namun Jepang berbuat licik dan kejam. Jepang mengeruk sumber daya alam yang ada di Indonesia dan dipakai untuk membiayai perang. Wilayah yang dikuasai cukup luas membuat Jepang memerlukan tenaga besar. Tenaga dibutuhkan untuk membangun kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gedung bawah tanah, jalan raya, dan jembatan. Tenaga kerja diambil dari penduduk Indonesia dan disebar ke berbagai wilayah. Banyak pekerja romusha yang kondisinya menyedihkan dan jatuh korban jiwa.
Pekerja romusha tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan yang dijadikan sebagai pekerja penghibur. Pada 1943, romusha semakin di eksploitasi oleh Jepang yang kalah pada perang Pasifik. Jepang menjadikan romusha sebagai tenaga swasembada untuk membantu perang secara langsung.
Berdampak negatif
Romusha memberikan dampak mendalam bagi bangsa Indonesia meski Jepang hanya sebentar menjajah. Banyak pekerja yang sangat menderita, kelelahan, kelaparan, kurus, miskin, terserang penyakit hingga meninggal. Karena adanya pengawasan dan siksaan yang kejam tidak berperikemanusiaan.

(Rz.ajh/Kompas)

×
Berita Terbaru Update