Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KISAH NABI IBRAHIM AS & NABI ISMA'IL AS

Selasa, 19 April 2022 | April 19, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-04-20T02:59:45Z

1️⃣. Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhu berkata :

📖 "Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah ibu Nabi Isma'il 'alaihissalam. Dia menggunakannya untuk menghilangkan jejak dari Sarah kemudian Ibrahim 'alaihissalam membawanya beserta anaknya Isma'il yang saat itu ibunya masih menyusuinya hingga Ibrahim 'alaihissalam menempatkan keduanya dekat Baitullah (Ka'bah) pada sebuah gubuk di atas zamzam di ujung Masjidilharam. Waktu itu di Makkah tidak ada seorangpun yang tinggal di sana dan tidak ada pula air. Ibrahim menempatkan keduanya di sana dan meninggalkan semacam karung berisi kurma dan kantung/geriba berisi air. Kemudian Ibrahim pergi untuk meninggalkan keduanya. Maka Ibu Isma'il mengikutinya seraya berkata, "Wahai Ibrahim, kamu mau pergi ke mana ? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apapun ini". Ibu Isma'il terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya ibu Isma'il bertanya, "Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semuanya ini ?". Ibrahim menjawab, "Ya". Ibu Isma'il berkata, "Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami". Kemudian ibu Isma'il kembali dan Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan orang-orang tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Ka'bah lalu berdoa untuk mereka dengan beberapa kalimat doa dengan mengangkat kedua belah tangannya, katanya, "Rabbi, ("Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu yang disucikan") hingga sampai kepada (semoga mereka menjadi hamba-hamba yang bersyukur) (QS. Ibrahim ayat 37. Kemudian ibu Isma'il mulai menyusui anaknya dan minum dari air persediaan hingga ketika air yang ada pada geriba habis dia menjadi haus begitu juga anaknya. Lalu dia memandang kepada Isma'il sang bayi yang sedang meronta-ronta", atau dia berkata dengan redaksi, "Berguling-guling di atas tanah". Kemudian Hajar pergi meninggalkan Isma'il dan tidak kuat melihat keadaannya. Maka dia mendatangi bukit Shafaa sebagai gunung yang paling dekat keberadaannya dengannya. Dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana namun dia tidak melihat seorang pun. Maka dia turun dari bukit Shafaa dan ketika sampai di lembah dia menyingsingkan ujung pakaiannya lalu berusaha keras layaknya seorang manusia yang berjuang keras hingga ketika dia dapat melewati lembah dan sampai di bukit Marwah lalu berdiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana namun dia tidak melihat ada seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah). Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhu berkata; Nabi ﷺ bersabda, "Itulah sa'iy yang mesti dilakukan oleh manusia (yang berhaji) antara kedua bukit itu". Ketika berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara, lalu dia berkata dalam hatinya "Diamlah" yang Hajar maksud adalah dirinya sendiri. Kemudian dia berusaha mendengarkanya maka dia dapat mendengar suara itu lagi maka dia berkata, "Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud meminta pertolongan". Ternyata suara itu adalah suara malaikat (Jibril 'alaihissalam) yang berada di dekat zamzam, lantas Jibril mengais air dengan tumitnya" atau katanya; dengan sayapnya hingga air keluar memancar. Ibu Isma'il mulai membuat tampungan air dengan tangannya seperti ini yaitu menciduk air dan memasukkannya ke geriba sedangkan air terus saja memancar dengan deras setelah diciduk". Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma berkata; Nabi ﷺ bersabda, "Semoga Allah merahmati Ummu Isma'il (Hajar) karena kalau dia membiarkan zamzam" atau sabda beliau, " kalau dia tidak segera menampung air tentulah air zamzam itu akan menjadi air yang mengalir". Akhirnya dia dapat minum air dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat berkata kepadanya, "Janganlah kalian takut ditelantarkan karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya". Pada saat itu Ka'bah Baitullah posisinya agak tinggi dari permukaan tanah seperti sebuah bukit kecil, yang apabila datang banjiir akan terkikis dari samping kanan dan kirinya. Ibu Isma'il, Hajar, terus melewati hidup seperti itu hingga kemudian lewat serombongan orang dari suku Jurhum atau keluarga Jurhum yang datang dari jalur bukit Kadaa' lalu singgah di hilir Makkah kemudian mereka melihat ada seekor burung sedang terbang berputar-putar. Mereka berseru, "Burung ini pasti berputar karena mengelilingi air padahal kita mengetahui secara pasti bahwa di lembah ini tidak ada air. Akhirnya mereka mengutus satu atau dua orang yang larinya cepat dan ternyata mereka menemukan ada air. Mereka kembali dan mengabarkan keberadaan air lalu mereka mendatangi air. Beliau berkata, "Saat itu Ibu Isma'il sedang berada di dekat air". Mereka berkata kepadanya, "Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di sini ?". Ibu Isma'il berkata, "Ya boleh tapi kalian tidak berhak memiliki air". Mereka berkata, "Baiklah". Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma berkata; Nabi ﷺ bersabda, "Ibu Isma'il menjadi senang atas peristiwa ini karena ada orang-orang yang tinggal bersamanya". Akhirnya mereka pun tinggal di sana dan mengirim utusan kepada keluarga mereka untuk mengajak mereka tinggal bersama-sama di sana". Ketika para keluarga dari mereka sudah tinggal bersama Hajar dan Isma'il sudah beranjak belia, dia belajar berbahasa Arab dari mereka, bahkan menjadi manusia paling berharga dan paling ajaib di kalangan mereka. Kemudian Isma'il tumbuh menjadi seorang pemuda yang disenangi oleh mereka. Setelah dewasa, mereka menikahkan Isma'il dengan seorang wanita dari mereka dan tak lama kemudian ibu Isma'il meninggal dunia. Di kemudian hari Ibrahim datang setelah Isma'il menikah untuk mencari tahu apa yang telah ditinggalkannya namun dia tidak menemukan Isma'il. Ibrahim bertanya tentang Isma'il kepada istrinya Isma'il. Istrinya menjawab, "Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami. Lalu Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Isma'il menjawab, "Kami mengalami banyak keburukan dan hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat". Istri Isma'il mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata, "Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah daun pintu rumahnya". Ketika Isma'il datang dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya, "Apakah ada orang yang datang kepadamu ?". Istrinya menjawab, "Ya. Tadi ada orang tua begini begini keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan". Isma'il bertanya, "Apakah orang itu ada memberi pesan kepadamu tentang sesuatu ?". Istrinya menjawab, "Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah daun pintu rumah kamu". Isma'il berkata, "Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu maka itu kembalilah kamu kepada keluargamu". Maka Isma'il menceraikan istrinya. Kemudian Isma'il menikah lagi dengan seorang wanita lain dari kalangan penduduk itu lalu Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah dan setelah itu datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Isma'il hingga akhirnya dia mendatangi istri Isma'il lalu bertanya kepadanya tentang Isma'il. Istrinya menjawab, "Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami. Lalu Ibrahim bertanya lagi, "Bagaimana keadaan kalian". Dia bertanya kepada istrinya Isma'il tentang kehidupan dan keadaan hirup mereka. Istrinya menjawab, "Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup". Istri Isma'il memuji Allah. Ibrahim bertanya; 'Apa makanan kalian ? '. Istri Isma'il menjawab, "Daging". Ibrahim bertanya lagi, "Apa minuman kalian ? '. Istri Isma'il menjawab, "Air". Maka Ibrahim berdoa, "Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka". Nabi ﷺ bersabda, "Saat itu tidak ada biji-bijian di Makkah dan seandainya ada tentu Ibrahim sudah mendoakannya". Dia berkata, "Dan dari doa Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorangpun selain penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air". Ibrahim selanjutnya berkata, "Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh daun pintu rumahnya". Ketika Isma'il datang, dia berkata, "Apakah ada orang yang datang kepadamu ?". Istrinya menjawab, "Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kami". Istrinya mengagumi Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja".". Isma'il bertanya, "Apakah orang itu ada memberi pesan kepadamu tentang sesuatu ?". Istrinya menjawab, "Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan daun pintu rumah kamu". Isma'il berkata, "Dialah ayahku dan daun pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu". Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka lagi untuk waktu tertentu sebagaimana dikehendaki Allah, lalu datang kembali setelah itu saat Isma'il meletakkan anak panahnya di bawah sebatang pohon dekat zamzam. Ketika dia melihatnya, dia segera menghampirinya dan berbuat sebagaimana layaknya seorang ayah terhadap anaknya dan seorang anak terhadap ayahnya kemudian dia berkata, "Wahai Isma'il, Allah memerintahkanku dengan suatu perintah". Isma'il berkata, "Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabb-mu". Ibrahim berkata lagi; Apakah kamu akan membantu aku ?". Isma'il berkata, "Ya aku akan membantumu". Ibrahim berkata, "Allah memerintahkan aku agar membangun rumah di tempat ini". Ibrahim menunjuk ke suatu tempat yang agak tinggi dibanding sekelilingnya". Perawi berkata, "Dari tempat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah, Isma'il bekerja mengangkut batu-batu sedangkan Ibrahim yang menyusunnya (membangunnya) hingga ketika bangunan sudah tinggi, Isma'il datang membawa batu ini lalu meletakkannya untuk Ibrahim agar bisa naik di atasnya sementara Isma'il memberikan batu-batu' Keduanya bekerja sambil mengucapkan kalimat doa; ("Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui". Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca doa; ("Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui"). (QS. Al-Baqarah : ayat 127). 
📔 {HR. Shahih al Bukhari : No.3113}
✅ Derajat hadits ini shahih

2️⃣. Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhu berkata :

📖 "Ketika Ibrahim keluar berkelana bersama Isma'il dan ibu Isma'il, mereka membawa geriba (kantung empat air) yang berisi air, ibu Isma'il minum dari persediaan air dalam geriba tersebut sehingga dia dapat menyusui bayinya. Ketika tiba di Makkah, Ibrahim menempatkan keduanya di bawah sebuah gubuk. Tatkala Ibrahim hendak kembali kepada keluarganya, ibu Isma'il mengikutinya di belakang hingga ketika sampai di dataran yang agak tinggi/gundukan, ibu Isma'il memanggilnya dari belakang, "Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami ?". Ibrahim menjawab, "Kepada Allah". Hajar berkata, "Kalau begitu, Aku telah ridha kepada Allah". Perawi berkata, "Lalu Hajar kembali (ke tempat semula dia dan minum geriba kunonya dan bisa menyusui bayinya hingga ketika air persediaan habis dia berkata, "Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang". Perawi berkata, "Maka dia pergi dan naik ke atas bukit Shafaa lalu melihat-lihat apakah ada orang, namun dia tidak merasakan ada seorangpun. Ketika sampai di lembah dia lari-lari kecil dan mendatangi Marwa, ia lakukan yang demikian berkali-kali. Kemudian dia berkata, "Sebaiknya aku pergi dan melihatnya, yang dimaksudnya adalah bayinya. Maka dia pergi mendatangi bayinya yang ternyata keadaannya seperti ketika ditinggalkan seolah-olah menghisap napas-napas kematian sehingga hati Hajar tidak tenang. Dia berkata, "Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang". Maka dia pergi untuk mendaki bukit Shafaa lalu melihat-lihat namun tidak ada seorangpun yang ditemuinya hingga ketika dia telah melakukan upaya itu sebanyak tujuh kali (antara bukir Shafaa dan Marwah) dia berkata, "Sebaiknya aku pergi dan melihat apa yang terjadi dengan bayiku", ternyata dia mendengar suara, maka dia berkata, "Tolonglah (aku) jika memang kamu baik". Ternyata (suara itu) adalah malaikat Jibril 'alaihissalam. Perawi berkata; Lalu Jibril berbuat dengan tumitnya begini. Dia mengais-ngais tanah dengan tumitnya". Perawi berkata, "Maka memancarlah air dan ibu Ism'ail menjadi terperanjat dan segera menampungnya". Perawi berkata; Berkata Abu Al Qasim ﷺ, "Seandainya Hajar membiarkannya pasti air akan mengalir". Perawi berkata, "Maka Hajar minum dari air (zamzam) itu sehingga dapat menyusui bayinya". Kemudian serombongan orang dari suku Jurhum lewat di dasar lembah dan mereka melihat ada seekor burung, seakan mereka tidak percaya, Mereka berkata, "Tidak akan ada burung melainkan pasti karena ada air". Akhirnya mereka mengutus seorang utusan mereka untuk melihatnya yang ternyata mereka memang berada di kawasan yang ada air. Utusan itu kemudian kembali kepada mereka dan mengabarkan (apa yang dilihatnya). Kemudian mereka menemui Hajar dan berkata, "Wahai Ibu Isma'il, apakah kamu mengizinkan kami untuk tinggal bersama kamu atau kami hidup bertetangga bersama kamu ?". Kemudian anaknya (Isma'il) tumbuh menjadi seorang pemuda lalu menikah dengan seorang wanita". Perawi berkata, "Kemudian timbul keinginan pada diri Ibrahim maka dia berkata kepada keluarganya, "Aku akan pergi melihat keluargaku yang aku tinggalkan". Perawi berkata, "Maka Ibrahim datang dan memberi salam seraya berkata, "Ke mana Isma'il ?". Istri isma'il berkata, "Pergi berburu". Ibrahim berkata, "Katakanlah kepadanya jika sudah datang supaya dia mengubah daun pintu rumahnya". Ketika Isma'il datang istrinya menceritakan kedatangan Ibrahim. Maka Isma'il berkata, "Kamulah yang dimaksud dengan daun pintu itu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu"."Kemudian timbul lagi keinginan pada diri Ibrahim maka dia berkata kepada keluarganya, "Aku akan pergi melihat keluargaku yang aku tinggalkan". Ketika tiba, Ibrahim bertanya; Kemana Isma'il". Istrinya menjawab, "Dia pergi berburu. Apakah tidak sebaiknya Anda singgah dulu dan makan minum bersama kami ?". Ibrahim bertanya, "Apa makanan dan minuman kalian ?". Istri Isma'il menjawab, "Makanan kami daging dan minuman kami air". Lalu Ibrahim berdoa, "Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka". Abu Al Qasim ﷺ bersabda, "Daging dan air di sini penuh dengan barakah karena barokah doa Ibrahim 'alaihissalam."Kemudian timbul lagi keinginan pada diri Ibrahim maka dia berkata kepada keluarganya, "Aku akan pergi melihat keluargaku yang aku tinggalkan". Maka Ibrahim datang dan bertemu dengan Isma'il dari balik (sumur) zamzam sedang memperbaiki panahnya lalu berkata, "Wahai Isma'il, sesungguhnya Rabb-mu telah memerintahkan aku agar membangun rumah". Isma'il berkata, "Taatilah Rabb-mu". Ibrahim berkata lagi, "Sesungguhnya Dia telah memerintahkan aku agar kamu membantu aku dalam pembangunan rumah yang dimaksud". Isma'il berkata, "Kalau begitu aku akan lakukan", atau seperti yang dikatakannya. Perawi berkata; Maka keduanya mulai membangun, Ibrahim yang membangun sedangkan Isma'il membawa bebatuan, keduanya sambil membaca doa; ("Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui". Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca doa; ("Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui"). Perawi berkata, "Keduanya terus membangun hingga ketika bangunan sudah tinggi dan Ibrahim sebagai orang tua yang sudah renta agak kepayahan untuk mengangkat batu ke susunan tembok yang lebih tinggi, dia berdiri di atas batu sebagai tempat berdirinya (al-Maqam) sedangkan Ismail terus memberinya bebatuan sambil keduanya terus membaca doa; ("Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui").(QS. Al-Baqarah : ayat 127). 
📔 {HR. Shahih al Bukhari : No.3114}


×
Berita Terbaru Update